Dakwah Digital Jadi Keniscayaan, Ulama Muda Dituntut Adaptif di Era AI dan Media Sosial

Transformasi dakwah di era digital menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Generasi masa kini hingga mendatang diprediksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pembelajaran konvensional melalui guru atau lembaga formal, melainkan semakin mengandalkan konten digital dan internet sebagai sumber utama pengetahuan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) H. Azharul Fuad Mahfudz dalam materi bertajuk “Transformasi Dakwah dari Mimbar Menuju Era Digital: Memahami Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Kecerdasan Buatan dan Media Sosial” pada rangkaian Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan VI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini berlangsung di Kampoeng Wisata Gowes, Bojongsari, Kota Depok, Selasa (4/8/2026).

“Ada pergeseran paradigma dalam dakwah. Kini dakwah melampaui batas mimbar. Media sosial menjadi lahan subur untuk menyebarkan risalah Islam,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dakwah tatap muka tetap menjadi fondasi utama yang tidak tergantikan, seperti khutbah Jumat, majelis ilmu dan pengajian. Namun, kehadiran media sosial mampu memperluas jangkauan dakwah hingga menjangkau jutaan umat tanpa batas geografis.

Di sisi lain, tantangan dakwah digital juga semakin kompleks. Konten sensasional kerap mendominasi ruang digital dan berpotensi menggeser pesan dakwah yang sejuk, moderat, dan menyejukkan umat.

“Ini menjadi tantangan serius, bagaimana pesan dakwah tetap hadir dengan nilai-nilai kesejukan di tengah arus konten yang cenderung provokatif,” tambahnya.

Untuk itu, Azharul memaparkan sejumlah langkah strategis dalam memulai dakwah digital. Pertama, membangun literasi digital yang kuat sebagai pondasi utama. Dakwah di era digital harus mampu melawan hoaks, mengelola misinformasi, serta meredam ujaran kebencian secara bijak.

Kedua, mengedepankan komunikasi wasathiyyah dengan menyampaikan pesan Islam yang moderat, damai dan inklusif. Ketiga, memperkuat kualitas konten melalui literasi yang baik agar terhindar dari narasi menyesatkan dan provokatif.

Dalam aspek visual, ia menekankan pentingnya estetika sebagai bentuk penghormatan terhadap pesan dakwah. Hal ini meliputi landasan teologis yang kuat, penggunaan desain digital modern yang menarik, serta penerapan prinsip desain seperti kejelasan pesan, tipografi yang mudah dibaca dan konsistensi branding.

Lebih lanjut, ia memaparkan arah dakwah masa depan yang berkelanjutan dan inklusif. Pertama, integrasi multiplatform dengan membangun ekosistem dakwah di berbagai kanal digital. Kedua, menghadirkan dakwah ramah difabel melalui konten yang aksesibel, baik secara visual maupun audio. Ketiga, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara produktif dan bermartabat untuk memperkuat dakwah, bukan menggantikan nilai-nilai dasarnya.

“Mari manfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab untuk mewujudkan dakwah yang bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (din)